Posts

Showing posts with the label Essay

Ayah dan Sebotol susu

Image
Ayah dan Sebotol susu Malam sudah larut, saya masih setia menggoda Anak perempuanku agar segera melupakan botol susunya. Saya berusaha bisikkan beberapa ayat agar nanti ia tetap terjaga dalam tidurnya. Namun, Ia terbangun dan tertawa saja, tak peduli dengan busungan nafasku yang sejak tadi hendak kutiupkan pada telinga dan ubun-ubunnya. Ia terlihat seakan ingin menghalau tiupanku dengan tiupannya yang sudah tampak monyong berkerucut depan mataku. Akhirnya saya batalkan saja, perut saya sudah tergeli-geli mendesakku ketawa melihatnya. Kulepas perlahan-lahan nafas yang tertahan tanpa membuatnya curiga bahwa beberapa ayat telah tumpah dari mulutku dan sisanya kutelan saja mengisi perutku yang kosong. Saya ajak kembali bersenang-senang, bermain, dan menyanyikan beberapa lagu yang akrab di memorinya, mencoba mengurai perhatiannya pada botol susu yang dari lima jam lalu tak jua berisi. Namun usaha saya gagal, dengan tangan mungilnya Ia berusaha menarikku kekeranjang kecil miliknya...

Sumur Tua

Sumur Tua, Beberapa tahun ini, cuaca kerap tak patuh pada siklusnya. Ini bukan musim penghujan, tetapi tiap hari awan tak pernah alpa mengirimkan rintiknya. Air pun makin lama makin deras tumpah ke bumi. Ayam dan bebek tak perlu lagi antri menunggu tadahan air kappara’ (baki besar) dari empunya di kampung Cambayya sana. Ayam betina sudah tak pesimis lagi mengeraskan suara koteknya saat hendak bertelur. Barisan bebek sudah kembali rapi di pematang sawah menyidak siput-siput kecil yang mungkin baru saja lolos dari himpitan retakan tanah. Ataukah beberapa sapi betina dan kambing terlihat sudah begitu tabah bertualang di parang sawah yang baru saja ditumbuhi rumput-rumput muda belia setelah menjanda sekian lama pasca Idul Qurban bulan kemarin. Mungkinkah beberapa saudara kita di kampung seberang telah terijabah doanya ataukah tengadah jemari tangan keriput pak tua baru saja menuntaskan doa pamungkasnya yang konon hanya bisa dipakai disaat keadaan sudah genting. Tetapi, Alhamdulillah hu...

MAROS UTARA (BONTOA)

MAROS UTARA (BONTOA), Ada yang pernah ke kutub utara? Atau ada yang pernah ke Maros utara ? Kalau anda pernah ke salah satunya, maka anda bisa membayangkan bagaimana suasana di satunya lagi. Tinggal dibalik atau dilawankan saja rasanya. ..................... Saya teringat salah seorang keluarga disebuah kampung kecil bernama Cambayya, Desa Bonto Bahari yang harus mandi di atas Talang (Kappara) yang berupa baki besar bundar yang biasa digunakan untuk ditempati piring yang berisi lauk pauk atau kue-kue. Hal itu mereka lakukan agar Air tak terbuang percuma ketanah saat mandi, dan Air yang tertalang itu digunakan untuk membasahi dedak bebek dan Ayamnya, bahkan untuk ternak kambing dan sapinya. Entah airnya diperoleh dari mana atau mungkin itu adalah air kembang Tujuh Rupa hingga harus digunakan seguna-gunanya, ataukah sosialisasi hemat Air bersih dari salah satu perusahaan Air di Kota ini yang begitu mengugah di kampung ini hingga mereka sedikit kelihatan lebih sakral pada saat mand...

Budi Jembatan Maros

“ Si Budi Kecil” Jembatan Maros. Hari Kemerdekaan tentunya memberikan kesan yang berbeda bagi setiap Rakyat indonesia. Mungkin ada yang bersyukur, menghormati dan menghargai jasa-jasa para pahlawan, menyerukan agar memelihara dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, mungkin juga ada yang menangis terharu ataukah sedih karena belum mampu merasakan kemerdekaan. Tetapi apapun itu, itulah rasa Kemerdekaan yang tak bisa lagi ditawar-tawar, dimanipulasi ataukah di bumbui agar berubah rasa, apalagi disandiwarakan dengan penuh kebohongan. Itulah kabar yang sempurna dihari kemerdekaan bahwa rakyat belum sepenuhnya bahagia yang sekaligus memberikan sinyal bahwa kemerdekaan masih membutuhkan perjuangan yang lebih keras agar hanya menyisakan kata “Manis” ditahun depan. Salah satu rasa kemerdekaan contohnya yang dialami Budi (nama samaran). Ia dan teman-temannya tinggal di tanggul kota maros yang pinggiran sungainya tak terpancang lunas. Setiap hari ia mencari kerang di dasar sungai, kemudian...

Miskin Tetap Tegak

Miskin Tetap Tegak, Saya sangat percaya kekayaan dimulai dengan pola pikir. Dan tanpa kekayaan atau prospek kemakmuran, kemerdekaan hanyalah sebuah kata. Hari ini Saya benar-benar percaya bahwa “Kemerdekaan” berarti “ Menentukan nasib sendiri . " Saya pernah membayangkan suatu gerakan kolaborasi antara semua sektor kehidupan untuk mempromosikan gerakan kemandirian. Sebuah jalan menuju kemakmuran yang wajar dan layak bagi negara kita. Negara yang Konon kemiskinanya belum lumpuh dengan Jurus manapun, bahkan bulan kemarin Stok Jawara yang beralamat diluar Negeri pun ikut dilibatkan seperti Archandra tahar yang lagi hot dipemberitaan karena masa kerjanya yang belum sampai sebulan, Sri Mulyani yang sementara diberi kesempatan kedua Mengatur Duit negara kita, bahkan yang tidak layak disebut sebagai jawara pun kita naik arena. Tetapi Ah, biarlah itu menjadi buah mulut orang yang paham saja. Cuma, saya mau bertanya “Apakah Jawara masih tertidur setelah 71 tahun Kemerdekaan ...

Cara Membangkitkan Leluhur

Image
Membangkitkan Leluhur; Upaya Mempertahankan Nilai-NilaiTadisi Bangsa ini sudah terlalu lama hidup dalam pembuangan dan pengusiran Tradisi, Adat, bahkan Kebudayaan. Hampir semua Pemimpin berwatak pembangun, mereka sama sekali mengabaikan apa yang sebelumnya telah dibangun oleh leluhur Bangsa ini. Hampir semua perlakuan sama, di sana-sini dibangun watak kemodernan, lalu disetiap bangunan itu dinyalakan lilin-lilin penjajahan terhadap apa yang dimiliki oleh orang-orang didalamnya ( Tradisionalitas ). Masyarakat dipaksa untuk mengusir apa yang mereka pikirkan, masyarakat dianggap mengidap penyakit karena apa yang telah mereka miliki, tujuannya tidak lain agar bisa dibangun wajah baru bangsa ini dan mereka bisa dengan senang hati menari di wejangan para bapak pembangunan. Sungguh ironis memang, ketika alat sejarah yang sekian lama begitu bernilai dan telah menjadi obat kedamaian para masyarakatnya harus ditelantarkan kemudian dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan untuk dile...

Kepala Desa

Selamat Berjuang Edhie Blink barochie..!!!   Menurut Einstein Energi adalah segalanya, namun Entah apa yang dipikirkan teman saya beberapa bulan terakhir ini hingga mengantongi gelombang optimis yang begitu kuat. Padahal beberapa tahun ini cangkir Kopi masih selalu saja  berputar Hot didepannya. Saya hanya bisa menduga, mungkin Uap Kopi bawaan salah satu warkop di kota ini yang merayu harimau liar dari pikirannya meloncat untuk berbagi ke lebih banyak orang disekitarnya. Dengan kemapanannya yang lebih ngebut dari saya, saya yakin sampai hari ini beliau tidaklah kekurangan asupan kopi. Beda dengan saya, saya justru mengganti minuman rutin saya dari Kopi Hitam ke Teh Manis. Satu alasan yang dapat saya publik adalah saya ingin minum teh satu gelas berdua dengan istri saya menggunakan Gelas Besar yang berletterkan “PaPa” karena saat ini kami sudah punya selera yang sama.   Selama ini berkiprah diluar kampung halamannya tidak lain demi mencari ramuan yang cocok bagi k...

Gerimis Pengantin

Image
Alangkah indahnya bila hujan di malam hari tidak lagi dinikmati dengan kesendirian dan saat bangun pagi tengah gerimis Nampak ada kopi hangat nan Harum yang kita tidak lagi bertanya siapa yang mengaduknya. Orang itu bukan siapa-siapa, Kopinya pun tidak dijual. Semuanya halal dan mungkin Gerimis dan hujan yang membuat kita mendapatkan keduanya . Adnan_Junaedi. ---------------------------------------------------- GERIMIS PENGANTIN Tidak bisa dipungkiri bahwa dimusim ini banyak yang menjadikan hujan sebagai salah satu bahan utama dalam adonan ceritanya. Ini membuktikan bahwa dinginnya hujan begitu merasuki sukma para penulis hingga membuahkan karya yang mugkin tidaklah musiman. Sejauh ini sudah ada kurang lebih 30-an Artikel saya baca yang menggunakan kata hujan sebagai Isusentralnya . Tetapi para punggawa bijak dipelosok desa kadang sering kali memaknai hujan dg arti lain. Bagi mereka Hujan telah membangunkan Pepatahnya setelah tertidur selama Musim kemarau. Mereka ti...

Pernikahan

Image
“Jika kita menganggap bahwa kita tengah berdiri diatas keturunan baik-baik dan berdiri pada skala peradaban yang jelas, mungkin karena hidup kita Tengah ditopang oleh Agama, Adat istiadat dan budaya yang baik pula. Maka kode Pernikahan dan Perkawinan datang untuk menjaga keadaan ini”. Adnan Junaedi . Tidak semua manusia mengalami satu dinamika kehidupan yang namanya Pernikahan. Pernikahan merupakan kontruk sosial dan benang yang sah untuk membentuk suatu organisasi keluarga melalui akad/perjanjian yang diatur oleh agama. Berbicara mengenai upacara pernikahan juga tidak bisa dilepaskan oleh unsur kebudayaan yang ada. Oleh karena itu, perkawinan menjadi agung, luhur, sacral dan Perkawinan bagi banyak orang hanya sekali seumur hidup dan tidak main-main. Oleh karena itu proses mencari jodoh dalam persiapan pernikahan  bukanlah “membeli kucing dalam karung” sebagaimana sering dituduhkan, Namun justru diliputi oleh perkara yang penuh adab, Bukan “ Coba dulu baru beli ” kemudian...

Jurus kuncup-kuncup

Image
Suatu ketika ada dua orang pemuda yang menginginkan suatu kesaktian, sebut saja si Amir dan si Rahim. Mereka kemudian masuk kedalam hutan berharap ada seorang maha guru yang mereka temui yang siap melatih mereka berdua. Singkat cerita, dalam perjalanan mereka melihat sebuah gubuk kecil, kemudian mereka menghampirinya dan bertemulah mereka dengan seorang yang tua namun terlihat masih kuat. Mereka menyampaikan maksud kedatangan mereka dan akhirnya mereka diterima dengan syarat harus patuh pada semua keinginan orang tua itu karena kalau tidak semua usahanya dalam berlatih akan sia-sia saja. Salah satu syaratnya adalah mereka harus siap tinggal menemani orang tua itu selama setahun dan siap membantu setiap pekerjaan orang tua itu sehari-hari seperti memikul air, berkebun dan mengumpulkan kayu bakar. Selama tiga hari tidak satupun latihan yang diberikan oleh orang tua itu. mereka hanya disuruh melakukan pekerjaan sehari-hari. Si Rahim sempat curiga, jangan-jangan orang tua itu han...

Akhirya Kuliah Lagi

      Tidak seperti kebanyakan teman-teman yang sebaya beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2005 setelah saya lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 02 Maros yang biasa orang sebut SMADA Maros yang kita kenal sekarang Sekolah Menengah Atas Negeri. 03 atau SMAGA atau nama lain MAN MODEL yang hadir dari akibat reformasi nama-nama Sekolah oleh Bapak Bupati Maros Ir. H. M. Hatta Rahman, MM . Menikmati pendidikan di Perguruan Tinggi (PT) adalah sesuatu yang hampir mustahil saat itu, mengingat orang Tua di rumah sulit sekali mengeluarkan kata "Restu/Setuju" untuk lanjutkan pendidikan di PT karena kondisi yang memang hampir mustahil saat itu, ditambah lagi hasil Tes Intelengensi waktu kelas 2 SMA yang menerangkan bahwa bagaimanapun usahaku untuk lanjutkan pendidikan, Tim hanya garansi bahwa maksimal hanya pendidikan Diploma III yang bisa saya Raih.      Yah mustahil, kata yang paling saya benci sampai saat ini, kata yang mungkin tidak membuatku jadi siapa...